Cara Menjemput Jodoh Impian

IMG_20180210_173333_953.jpgJudulnya rada alay gimana gitu yah 😀 uda kaya nemu jodoh impian aja 😀 Jodoh impian adalah jodoh yang kita syukuri kehadirannya, sehingga akan selalu nampak baik sekecil apapun usaha yang dia lakukan untuk membahagiakan kita. (cieeeeeeee 😀 )

Pernah mendengar kata-kata ,”Seburuk-buruk laki-laki, pastilah dia ingin seorang ibu yang baik untuk anak-anaknya.” ?? Mungkin begitu juga bagi wanita. Namun tahukah bahwa pastilah wanita/lelaki yang baikpun menginginkan ibu/ayah yang baik bagi anak-anaknya kelak. Lalu apa bisa seorang bad boy/girl mendapat pasangan yang baik seperti yang dia harapkan? Wallahu alam. Tapi pastinya seorang yang baik akan berfikir panjang sebelum menerima seseorang untuk kelak akan menjadi ibu/ayah bagi anak-anaknya. Layakkah dia, atau setidaknya adakah potensi untuknya berubah menjadi lebih baik?

Jika pada akhirnya ada seorang yang baik-baik mau menerima seorang bad boy/girl, itu semua karena dia melihat ada suatu potensi atau setidaknya kemauan berubah dalam diri calon pasangannya. Karena seperti dijelaskan dalam AS. An Nur : 26 bahwa wanita baik-baik untuk lelaki baik-baik dan lelaki baik-baik untuk wanita yang baik-baik begitupun sebaliknya, maka tentu saja Allah akan memberikan jodoh sesuai dengan cerminan diri kita.

Tentang seperti apa jodoh itu, aku selalu percaya bahkan dari dulu sebelum aku tahu seperti apa jodohku, bahwa seperti apa dia adalah tergantung seperti apa aku mengusahakannya. Mungkin seperti kita sedang merangkai jodoh kita sendiri dalam angan dan usaha kita. Semakin baik kita mengusahakan diri untuk lebih memperbaiki diri agar kelak layak untuknya, maka selama itu juga Allah juga tengah mempersiapkan dia agar kelak pada saat yang tepat telah siap dipertemukan dengan kita.

Nah bagaimana jika kita cukupkan usaha kita karena lelah dengan penantian panjang dan enggan dalam berusaha lebih dalam memperbaiki diri. Ya mungkin sih simplenya seperti kita masak nasi yang ketika belum waktunya matang sudah kita angkat karena tidak sabar. Maka dalam menikmatinya, kita harus cukup puas jika merasakan nasi yang kita makan tidak sematang yang seharusnya.

Lalu efek seperti apa jika perumpamaan nasi yang belum matang itu terlanjur kita angkat jika diterapkan dalam kehidupan berumah tangga? Akan timbul kurangnya kesiapan dalam menghadapi masalah-masalah kecil dalam berumah tangga, labilnya emosi dan mental sehingga menyulut sikap-sikap yang kurang tepat dalam menyelesaikan masalah, dan tentu saja kurangnya pengetahuan tentang bagaimana menjadi istri dan ibu yang seharusnya, sehingga banyak tugas-tugas yang terabaikan, masih suka melakukan aktifitas-aktifitas diluar tanpa suami seperti seorang yang belum siap melepas masa singlenya.

Lalu bagaimana dalam usaha menjemput pasangan terbaik itu? Saya kira nasehat ini cukup klasik jika harus kita jabarkan lagi. Namun memang benar bahwa jika ingin mendapatkan seorang jodoh yang baik maka usaha terbaik yang harus kita lakukan adalah memperbaiki diri. Mulailah dengan berfikir jodoh terbaik seperti apa yang kita harapkan? Lalu pantaskah diri kita saat ini jika disandingkan dengan sosok seperti impian kita. Jika belum, maka usaha seperti apakah yang harus kita lakukan agar setidaknya layak berdiri di sampingnya sebagai pasangannya?

Sebagai gambaran simple, dulu sosok yang aku harapkan menjadi imamku tentu saja adalah sosok yang soleh, bertanggungjawab dan tentu saja penyayang, dia yang bisa membimbingku menjadi lebih baik. Dan aku mulai melihat ke diriku sendiri, sudah pantaskah aku jika tiba-tiba dipertemukan dengannya. Jika dia bertemu denganku saat itu, apakah dia mau menerimaku yang masih begitu payah itu, layakkah aku saat itu?

Dari pertanyaan-pertanyaan dalam diriku itu aku mulai belajar dan mencari, tentang bagaimana aku harus menjemputnya. Mulailah aku mencoba mencari ilmu dengan menghadiri seminar/kajian-kajian parenting, karena tentu saja bagi seseorang yang sudah siap untuk menikah, mempersiapkan diri bukan hanya harus dilakukan untuk menjadi seorang istri melainkan juga persiapan menjadi seorang ibu. Banyak orang siap untuk menikah, siap untuk menjadi istri, tapi sedikit yang juga mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ibu. Hal inilah yang membuat banyak ibu-ibu muda kurang siap ketika menyambut kehadiran seorang anak.

Tentang sebuah pertanyaan mengapa aku seakan terburu-buru mengambil keputusan untuk menikah dengan orang yang belum lama aku kenal.

Aku kira semua sudah diatur dengan rapi oleh Allah sebagai sebaik-baik perencana. Jika aku dipertemukan dengannya di tahun sebelumnya, mungkin aku yang belum siap akan terkesan menggantungnya, dan jika aku dipertemukan dengannya disaat kesiapannya menikah juga belum matang mungkin yang ada adalah aku akan digalaukan dengan waktu menunggu. Maka jika tahun kemarin aku dipertemukan dengannya dan pada akhirnya kita yakin untuk langsung menikah, mungkin itu adalah karena saat itu adalah saat yang tepat menurut Allah. Saat yang tepat dimana diantara kedua belah pihak sudah cukup siap untuk melangkah bersama. Dan tentang mengapa seakan terburu-buru? Aku kira tidak ada yang terburu-buru, bahkan aku rasa prosesnya cukup panjang untuk sebuah proses menyatukan keyakinan.

“Banyak ya persiapannya ternyata?”

Ya begitulah, tentu saja untuk mendapat hasil masakan yang lezat kita membutuhkan bahan dan bumbu yang komplit bukan? Maka dalam upaya menjemput jodoh, persiapkanlah banyak hal agar kelak hanya laki-laki/perempuan terbaiklah yang dipantaskan untukmu.

Advertisements

Teruntuk Engkau

Teruntuk engkau….

Pasangan sehalalku. Sebelum engkau dibersamakan denganku dalam satu atap kehidupan, aku yakin ada banyak cerita yang kita lewatkan tanpa satu sama lain tahu. Mungkin ada saat kita harus duduk bersama dalam damainya suasana, aku dengan secangir tehku, dan engkau dengan secangkir kopimu, lalu kita mulai bercerita tentang bagian-bagian yang tidak saling kita ketahui itu. Namun aku tahu, entah dalam sadar atau tidak kita akan melewatkan kepingan-kepingan cerita yang entah karena rahasia atau karena memang telah tersia. Bagaimanapun kepingan cerita masa lalu kita, aku harap saat kita berada di tangga yang sama dalam sebuah rumah, kita akan selalu punya cara mengukir cerita kita yang walaupun juga akan berakhir sebagai cerita masa lalu, setidaknya hanya kebaikan dan keindahan yang kita simpan di dalamnya. Berusahalah untuk itu.

Teruntuk engkau….

Seseorang yang telah menyempurnakan separuh hidupku. Aku yakin masing-masing dari kita adalah puzzle-puzzle yang sama-sama merasa bahwa hidupnya tidak sempurna sebelum kita bersama. Aku dengan kehidupan dan dinamikanya yang tak beraturan, dan engkau dengan kehidupan dan dinamikanya yang tak pernah aku bayangkan pula tentang bagaimana engkau melewati setiap harimu. Namun saat kini takdir menyatukan dinamika kehidupan kita, aku harap kita bisa saling merangkai puzzle-puzzel yang tak beraturan itu, dan menyempurnakan dinamika-dinamika kehidupan yang sempat hilang.

Teruntuk engkau….

Pasangan sehalalku. Aku bukanlah wanita sempurna seperti yang mungkin engkau bayangkan. Wanita anggun nan lembut yang selalu kau impikan dulu. Namun dibalik semua kekurangan itu, setiap wanita yang telah menjadi seorang istri pastilah ingin memberikan yang terbaik untuk suaminya. Begitupun denganku. Maka jika aku tidak belum bisa menunjukkan rasa sayangku dengan cara yang kau harapkan, jangan pernah lelah untuk membimbingku, karena sejatinya menikah juga tentang sebuah proses panjang untuk saling mengenal, maka jangan pernah letih mengingatkanku dengan lembutnya sikapmu.

Teruntuk engkau….

Seorang yang kini menjadi imam dalam hidupku. Tanamkanlah dalam pikiran dan hati kita bahwa masing-masing dari kita adalah hadiah terindah yang diberikan Tuhan untuk terus kita syukuri keberadaannya. Kita tidak selalu berada dalam satu tenunan pikiran yang sama, dimana darinya akan selalu menghasilkan motif-motif  masa depan yang indah. Namun syukur yang kita tanam itu ibarat bahan terbaik yang mana masa depan sebagai hasil tenunannya. Maka dari itu teruslah menjaga rasa syukur kita agar kita selalu punya bahan-bahan terbaik untuk menghasilkan masa depan yang indah nanti.

 

ON BOOK : MENIKAH DENGANMU BY NANA GRACIOSOIMG_20180119_132200.jpg

Menikah

DSC_8937.JPGMenikah….sebuah kata sederhana yang mungkin hampir setiap dari kita tahu apa itu, namun tidak semua memahami bagaimana cara menjalaninya dengan tepat. Dengan menulis blog ini bukan berarti juga saya sudah cukup baik dalam menjalani kehidupan pernikahanku. Namun blog ini hanya sebagai sebuah reminder bagi seorang pembelajar seperti saya yang mungkin akan bermanfaat bagi pembelajar-pembelajar lain di luar sana.

Menikah bukan hanya tentang bunga-bunga indah di dalamnya, melainkan juga tentang duri-duri tajam yang akan kita jumpai. Jangan melulu berfikir duri-duri tajam itu adalah tentang masalah besar. Karena sesungguhnya masalah yang sebenarnya adalah ketika kita gagal menaklukkan masalah-masalah kecil yang kita jumpai setiap harinya.

Kenyataan menawarkan banyak cerita miris tentang satu demi satu kegagalan rumah tangga yang dihadapi entah itu keluarga ataupun tentangga membuatku sempat takut untuk memulai langkah besar ini. Pengalaman bangun di atas puing-puing rumah tangga mengajarkanku banyak hal bahwa menikah bukan hanya sekedar cinta menggebu sesaat yang bisa dengan mudah hilang saat kebersamaan menjadi sesuatu yang mulai membosankan. Masalah-masalah besar yang akhirnya menyeret sebuah hubungan ke dalam sebuah jurang perpisahan tentu saja membuatku lebih selektif dalam mencari pasangan.

Begitu pula tentang persiapan-persiapan yang harus aku lakukan sebelum mulai melangkah. Ya, layaknya seorang yang akan mulai pejalanan panjang mengarungi sebuah bahtera kehidupan berdua, tentu kita tidak bisa asal berangkat saja tanpa mempersiapkan barang apa saja yang akan kita butuhkan, berapa banyak cadangan makanan dan lain sebagainya. Begitu pula saat memulai sebuah pernikahan. Kita tidak bisa asal jalan saja. Lalu persiapan seperti apa yang kita butuhkan?

Pertama perbaiki niat menikah kita. Bukan melulu soal cinta melainkan bagaimana cinta itu kelak bisa menumbuhkan cinta sang pemilik cinta.

Kedua adalah mental….

Sebagai seorang awam yang baru beberapa langkah meninggalkan daratan bersama sang nahkoda baru, tentu saja aku belum cukup berpengalaman untuk setidaknya memberikan sebuah nasehat pernikahan. Namun layaknya seorang pembelajar yang tentu ingin berbagi pengalaman bagi pembelajar lainnya, hal itulah yang akhirnya membuat saya ingin menulis lagi. Karena pastilah pengalaman hebatpun dimulai dari pengalaman-pengalaman kecil yang telah mereka lalui.

Kembali ke perihal pernikahan, setiap pernikahan pasti akan menemui kerikil di dalamnya, seharmonis dan senampak bahagia apapun mereka. Akan ada masa dimana salah satu atau bahkan keduanya tidak bisa mengontrol ego, masa dimana kita bahkan lebih kanak-kanak dibanding masa kanak-kanak kita, atau sekedar menjaga agar tetap pada posisi netral dan stabil dalam sebuah pernikahan. Akan selalu ada waktu dimana diam menjadi sebuah pilihan terbaik diantara kemarahan-kemarahan yang juga diambil oleh sebagian orang. Bedanya adalah setiap orang punya pilihannya sendiri. Jika kita melihat sebuah keluarga nampak bahagia, harmonis dan seakan tidak ada masalah. Maka sesungguhnya bukan berarti mereka tidak pernah menemui masalah dalam hidupnya. Mereka hanya memilih cara yang elegan, untuk menunjukkan masalah mereka, kemudian menyelesaikannya dengan cara yang bahkan mengelabui mata bahwa semua seakan baik-baik saja.

Lalu cara elegan seperti apa? Marahlah seperlunya, ngambeklah seperlunya dengan tidak mengesampingkan kewajibanmu di dalam sebuah rumah tangga. Karena lebih menggunakan perasaan sehingga lebih sering wanita yang ngambek, maka mungkin disini saya juga lebih spesifik ke wanita. Marah dan ngambeklah secukupnya dengan tidak mengabaikan tanggungjawabmu sebagai seorang istri (memasak, menyiapkan keperluan suami, dll). Marah dan ngambeklah dengan serahasia mungkin. Maksudnya adalah dengan tidak terlalu sering mengumbarnya pada media sosial, atau bahkanpun pada teman atau keluarga. Memang saya akui meluapkan segala bentuk kemarahan dalam sebuah status medsos itu melegakan, tapi yakinlah, leganya hanya sebentar saja, lebihnya sesunggunya kita hanya membuka masalah baru. Namanya saja “update” ya pasti masalahnya bukannya jadi selesai justru makin terupdate.

Selain itu ada banyak mata yang siap menyerbu kita dengan bidikan-bidikan panasnya saat sebuah status hot terpampang dilayar kaca mereka. Sadarilah, tidak semua yang berkomentar itu sepenuhnya mendukung kita, sebagian dari mereka justru menemukan topik yang bagus untuk mereka perbincangkan, dan tanpa sadar kamulah yang dengan sendirinya menyuguhkan sebuah makanan lezat itu. Jika perhatian khalayak yang kau butuhkan, sungguh itu tidak akan menyelesaikan masalah-masalahmu. Dan yang harus di ingat adalah bahwa setiap pasangan adalah pakaian bagi pasangannya, dan sebaik-baik pakaian adalah dia yang bisa menjaga aib penggunanya.

Temui pasanganmu, ajaklah duduk berdua dengan secangkir teh hangat, dan mulailah membicarakan masalah serta mencari penyelesaiannya bersama. Atau gunakanlah waktu sebelum tidur, di dalam pelukannya, dekatkan telingamu pada hatinya dan dengarlah lebih dalam apa yang selama ini tak diungkapkannya, lalu mulailah berdiskusi. Terdengar simple ya, pasti ada yang bakal ngomong “Ya Ngomong saja gampang” 😀

Iya, memang saya mungkin belum menemui masalah-masalah serumit yang teman-teman temui. Tapi selayaknya wanita biasa yang juga mengedepankan perasaan, selayaknya seorang pembelajar labil yang mulai menemui hal-hal baru di dalam hidupnya, tentu sayapun pernah marah, ngambek dan bahkan saling diam. Menurut saya itu hal yang ajar dihadapi oleh pasangan yang baru menikah dimana mereka masih berada dalam fase saling beradaptasi. Namun kenapa dimata teman-teman saya nampak baik-baik saja seakan sempurna. Ya karena kita memilih cara yang elegan untuk menyelesaikan masalah kita. Tentang bagaimana caranya, mungkin dibahas di tulisan selanjutnya aja ya 😀

See u on my next story, Semoga segores catatan ini bermanfaat bagi sesama pembelajar.

COVER #MENIKAHDENGANMU

IMG_4759∞NN∞

“Kita bukan dua nahkoda hebat yang sudah begitu mahir dalam mengemudikan berbagai jenis kapal

Bukan pula dua pelayar tangguh yang sudah sering menuai sukses dalam menaklukkan berbagai jenis ombak

Kita hanya dua orang yang mencoba menyatukan tujuan dan sedang sama-sama belajar

Bahwa berlayar bersama membutuhkan sebuah kerjasama yang baik

Engkau dengan kemudi kapal yang coba kau kendalikan,

Dan aku dengan kompas kecil yang memintaku terus mempelajarinya agar kelak bisa mengingatkanmu saat kita mulai kehilangan arah”

~~~

Sebuah bingkisan kecil yang coba dikemas semanis mungkin untuk calon sehalal. Catatan kecil dari seseorang yang sedang mencoba memahami seperti apa memulai dan mengarungi sebuah bahtera kehidupan. Karena yang special pantas mendapatkan sebuah bingkisan yang special.

Bukan karena dia telah begitu mahir dalam melewati lika-likunya. Hanya sebuah catatan kecil sebagai reminder bagi mereka yang tengah belajar merangkai cerita dalam sebuah mahligai yang bernama rumah tangga. Agar kelak saat engkau mulai merasa jenuh dan sempat berfikir untuk menyerah, engkau kembali ingat bagaimana engkau telah berjuang untuk sampai pada titik ini.

About My New House

Jujur saya sedikit bingung harus mulai cerita ini dari mana. Beberapa planning harus saya ubah sekitar awal September 2017 ini dikarenakan status saya yang juga tengah berubah gara-gara seorang lelaki yang dengan PD nya tau-tau ngelamar saya, dan dengan polosnya saya mau aja. 😂😂

Begitulah tepatnya 3 September 2017 petualangan kita bermula. Mungkin dari situ pulalah aku akan memulai pengalaman panjang penuh misteri dalam babak baru kehidupanku yang nggak lagi jomblo. Yang tadinya sendiri jadi sepasang. Tadinya seorang pendekar yang kemana-mana sendiri, jadi punya supir pribadi yang bahkan nggak memperboehkan aku pegang stang motor sendiri. Yang tadinya suka galau dikos sendiri jadi bising tiap hari karena ada yang bertingkah aneh-aneh (baca : petakilan😂)bikin ngakak. Dan berbagai pengalaman baru sebagai seseorang yang sudah nggak single lagi. (yeyeyeee sold out😂)

Ngomong-ngomong soal planning yang harus berubah tadi. Jauh dari dulu aku sudah memplanning jangka panjang bahkan sampai aku punya anak nanti. Lebih spesifiknya sih aku pengen tetep kerja setelah menikah nanti. Entahlah, wanita karir kelihatan keren dimata ABG labil ini. Mungkin juga karena terbiasa hidup mandiri sejak kecil, jadi kebawa sampai punya suami, pengennya beli sesuatu dengan hasil jerih payah sendiri. Dari planning kecil itu aku tentu saja pengen punya suami yang paling tidak satu kota sehingga aku tidak perlu meninggalkan pekerjaanku setelah menikah nanti, bahkan bayangan indahnya aku akan tetap bekerja sampai punya anak nanti. Menjalani kehidupanku sebagai seorang ibu, istri dan sekaligus wanita karir.

Planning itu tiba-tiba saja berubah saat aku ketemu dengan sosok misterius yang baru sekitar 2-3kali ketemu dalam sebuah pertemuan komunitas dan dengan PD-nya langsung menyatakan keseriusannya untuk menemui keluargaku. Pertama yang terlintas saat nih cowo menyatakan niat baiknya adalah “Gila nih cowo baru kenal aja uda berani amat mau nemuin keluargaku.” Langsung deh dijawab dengan sebuah penolakan alus yang diprdiksi tidak akan menyakiti “Aku masih pengen berlari-lari dan menari-nari bebas,”Jawabku. Dan tentu saja jurus itu lumayan cukup jitu untuk membuat dia tidak membahas perihal nikah beberapa saat.
Namun tidak cukup sampai disitu, ini cowo masih kekeh dengan berbagai usahanya. Hal terkonyol yan mungkin terdengar so sweet menurut sebagian orang yang pernah dia lakukan adalah, dia pernah rela jauh-jauh datang dari Jakarta ke Jogja hanya untuk menyatakan keseriusannya. Dan tidak cukup sampai di situ dia bahkan rela menunda 3 jam keberangkatannya, dan membiarkan tiketnya hangus begitu saja hanya untuk lebih lama ngobrol nggak jelas di bangku stasiun. (ini terjadi setelah sekitar 3 kali pertemuan)

Berhubung dia yang masih dengan sabar menunggu padahal aku selalu mengulur waktu untuknya ketemu sama kakakku, maka mulailah tumbuh benih-benih kasihan (ehh ralat, benih-benih lope😂😂). Tidak cukup asal mau aja. Memulai sebuah perjalanan panjang bersama partner dan driver yang baru tentu saja kita perlu tahu seperti apa partner kita itu. Samakah tujuan kita, dan bisakah kita berjalan bersama dalam satu visi dengan berbagai ujian yang siap menghadang(Bayangin sinetron-sinetron rumah tangga yang serem 😂). Dan dari satu pengajianlah aku mendapat ide dari seorang ustadzah yang berbagi pengalamannya sebelum menikah dengan suaminya. Mencoba mempraktekkan cara yang sama, aku meminta rekomendasi seseorang yang dapat aku percaya untuk ditanyai tentang sosok misterius ini. Mulailah dia menyebutkan sebuah nama.

Singkat cerita, akhirnya kita menikah. Singkat aja ya, soalnya panjang ceritanya, untuk lebih jelas tentang bagaimana perjalanan meyakinkan diri, proses lebih detail sampai berakhir di pelaminan mungkin bisa pesen buku “Menikah Denganmu” yang spesial aku tulis sebagai bentuk kenang-kenangan perjalanan kami dan juga kado pernikahan kecil yang insya Allah bisa kita kenang sampai tua nanti(Endorse dikit 😂)

Nah untuk blog ini selanjutnya akan diisi mengenai pengalaman-pengalaman saya dan suami dalam mengarungi sebuah bahtera kehidupan yang tentu saja masih sangat awam bagi kami sehingga tentu saja akan banyak hal baru yang menyenangkan sampai mungkin menyedihkan(Semoga bagian ini  terlewati). Tentang bagaimana dua sosok remaja yang sama-sama sedang belajar memahami pasangannya disaat dirinya sendiri masih harus berjuang untuk menaklukkan egoismenya. Ambillah yang bermanfaat, dan belajarlah untuk tidak menjudge apabila kurang sesuai dengan selera teman-teman. Keep positive 😉IMG_20171103_135645_703

Dunia Maya

Dunia maya
Manusia demi manusia sibuk
Berusaha menunjukkan pada dunia tentang siapa dirinya,
hingga terkadang mereka justru lupa, siapa diri mereka yang sebenarnya
Dunia maya
Pasangan demi pasangan sibuk
berusaha menunjukkan kemesraan mereka
Berlaku hangat didepan kamera, berlaku dingin saat berdua
Begitu sibuknya mereka membangun sebuah kesempurnaan imajinasi
hingga terkadang mereka lupa menikmati kebersamaan itu sendiri
Sedang faktanya tak sedikit dari mereka yang justru saling melempar caci, memasung diri dibalik kebisuan, bahkan saling menjatuhkan
Air mata kesakitan merebak memupuskan kepalsuan
Dunia maya memang menjadi fasilitas manis
Berpura-pura dalam kemesraan atau membabi buta dengan keegoisan
Banyak yang begitu indah mengagungkan cinta,
dan tak sedikit pula yang saling melempar cerca
Dunia maya
Tempatnya para politikus sibuk mencari perhatian rakyatnya
Dengan janji dan taburan sensasi
Dengan ambisi dan bubuhan manipulasi
Dunia maya
Tempat macam apahkah engkau???

Placeholder Image

Pindah Rumah, Pindah Kehidupan

IMG_20171121_151003_902[1]Hampir akhir tahun 2017 dan hampir genap 1 tahun juga aku tidak menulis blog lagi. Mungkin karena kesibukan yang cukup padat mempersiapkan banyak hal penting yang mungkin akan aku share di beberapa postingan berikutnya. Blog lama terbengkalai, dan bahkan sampai kemarinpun aku tak sedikitpun berfikir untuk kembali membuka cerita lamaku. Hingga tiba-tiba semalam aku mendapatkan sebuah kabar bahwa salah seorang teman suami baru saja menikah dan tidak ada yang tahu sampai saat dia membagikan cerita bahagianya di blognya. Sebuah pertemuan jodoh yang lucu menurutku setelah membaca cerita blognya. Berawal dari kolom komentar sesama bloger dan akhirnya entah dapat kemantapan hati dari mana merekapun menikah. Begitulah rahasia jodoh yang tak perlu manusia kawatirkan.

Membaca cerita mereka seolah menggugah kembali keinginanku untuk merangkai paragraf demi paragraf ceritaku yang sempat tercecer tak dihiraukan. Aku membuka blog lamaku dan mulai membacanya satu per satu. “Betapa polosnya aku menuliskan semua ini dalam sebuah blog,” Pikirku setelah flashback sambil membaca-baca blog lamaku. Ternyata perjalananku sampai di sini sangatlah panjang dengan berbagai kisah mengharukan, bahkan hampir bisa dibilang cenderung miris bak sinetron-sinetron. Sempat berfikir untuk menghapus semua blogku dan menggantinya dengan cerita baruku. Kemudian aku berfikir ulang, karena mungkin melalui blog lama inilah aku bisa sedikit bernostalgia dengan masa-masa sulit yang mungkin suatu hari nanti aku butuhkan untuk membakar semangatku sendiri.

Akhirnya dengan pertimbangan itu aku memilih untuk membuat blog baru dengan tetap mempertahankan blog lama (Mungkin seperti memulai kehidupan baru tanpa melupakan masa lalu kali ya hehe). Berganti blog seperti berpindah rumah, bahkan berpindah kehidupan ternyata. Di blog lama aku seakan bisa melihat masa lalu, lika-liku perjalanan sampai harapan-harapan masa kecilku. Sedangkan bersama blog baru ini aku seakan berpindah rumah dengan berbagai hal baru yang mau tidak mau harus aku rubah dan rancang dari awal juga, bahkan mungkin juga harapan-harapan baru bersamaan dengan kehidupan baru yang akan aku jalani dengan kerahasiaannya. Semoga bukan lagi tentang sad story. Insya Allah sih blog yang ini pengennya diisi dengan sesuatu yang menginspirasi saja, bukan tentang kegalauan-kegalauan lagi, karena bagiku masa itu sudah lewat jauh (Insya Allah). Tentang seperti apa, mungkin hanya sebuah perjalanan panjanglah yang sanggup untuk menjawabnya. And welcome to my new story. Have a nice reading 🙂