I’m Not Idiot Boy (part 2)

Selesai mengurus administrasi Hasan mengantar bunda dan ayahnya ke mobil depan. Bunda mencium kening dan pipi Hasan seakan berat meninggalkan Hasan di pesantren itu tanpanya. Hasan mencium tangan bunda dan ayahnya.

Dan perlahan mobil orang tua Hasan meninggalkan halaman, Hasan hanya bisa menatapnya samar dari kejauhan, mengamati semak-semak yang menenggelamkannya dari pandangan Hasan yang terbatas. Ingin sekali Hasan berlari dan berteriak bahwa Hasan tidak ingin ditinggal, ingin terus bersama bundanya. Namun tekat Hasan juga lebih kuat, dia ingin menunjukkan pada dunia terlebih ayahnya bahwa dia bisa.

Salah seorang ustadzah yang mereka panggil umi Rere mengajak Hasan menuju kamar yang nanti akan jadi tempat istirahatnya. Melewati lorong-lorong dan beberapa ruangan yang benar-benar baru dan nampak asing untuk Hasan. Ustadzah menjelaskan satu per satu ruangan yang dilewatinya, namun Hasan asik dalam angannya sendiri. Mereka sampai di kamar Hasan. Ada 2 dipan tingkat dalam satu ruangan sekitar 5mx4m dengan meja di tengah dan sebuah lemari di sudut ruangan, kurang lebih itulah gambaran yang diberikan umi Rere kepada Hasan. Sangat berbeda dengan suasana kamar Hasan di rumah yang lebih luas dengan banyak mainan yang memenuhi kamarnya. Hasan mencoba menikmatinya.

***

          Entah jam berapa terakhir kali Hasan memejamkan matanya. Hampir semalaman Hasan tidak bisa tidur. Hasan mencoba menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan situasi seperti itu. Di usianya yang masih sangat kecil, dia diminta dengan paksa untuk memahami banyak hal yang kadang tak dia temui jawabanya mengapa sesuatu itu harus terjadi. Menerima dan ikhlas, hanya itu yang bisa dia lakukan.

Dini hari suara adzan berkumandang dengan begitu keras. Sangat berbeda dengan adzan sebelumnya mengingat rumah Hasan yang tidak terlalu dekat dengan masjid. Hasan terbangun dan melihat teman-teman kamarnya sudah bersiap-siap. Hasan tidak tahu mau kemana mereka pagi buta seperti itu. Tak ada satu orangpun yang menyapa Hasan. Hasan tetap di kamar tidurnya sementara teman-temannya sudah meninggalkan kamar. Sebuah suara mengagetkan Hasan. Seseorang mengetuk pintu dan terdengar perlahan gagang pintu di putar. “Assalamualaikum,” Sebuah suara menyudutkan pandangan Hasan pada sosok di depan pintu.

“Walaikumsalam,” Jawab Hasan singkat.

“Boleh umi masuk nak?” Kata seseorang dari balik pintu.

“Iya umi,” Jawab Hasan singkat. Ternyata yang datang adalah Umi Rere.

Umi Rere mendekati Hasan yang masih berada di balik selimutnya dan duduk di sampingnya.

“Hasan sudah bangun nak? Kenapa Hasan tidak ikut sholat subuh?”

“Hasan malu umi,” Jawab Hasan singkat.

“Malu kenapa nak. Teman-teman baik kok,” Umi berusaha menenangkan Hasan. Hasan hanya diam.

“Yasudah nanti mulai kelas saja ya kita berkenalan sama teman-teman baru Hasan. Hari ini tidak apa-apa Hasan tidak ikut berjamaah di masjid, tapi Hasan harus tetap sholat, karena sholat itu hukumnya wajib nak, yang apabila di tinggalkan maka berdosalah kita.”

“Kenapa umi? Ayah tidak pernah mengajari demikian. Hasan juga tidak pernah lihat ayah sholat. Hanya ibu di rumah yang sholat,” Tanya Hasan dengan polos.

“Karena itu perintah agama kita nak, sebagai umat beragama islam kita wajib menjalankannya. Mungkin ayah sholat saat di kantor, dan ketika di rumah ayah sholat saat Hasan sedang di kamar, makanya Hasan tidak pernah lihat. Yang pasti kita diwajibkan untuk melakukannya nak.”

“Iya umi, tapi Hasan tidak hafal bacaannya. Hanya gerakan-gerakan saja yang Hasan tahu saat melihat bunda sholat dan sedikit belajar dari bunda di rumah. Bunda sudah sedikit mengajari Hasan gerakannya, tapi bacaannya masih susah umi.”

“Tak apa nak, lakukanlah dulu sebisa Hasan, lebih baik Hasan tidak bisa tapi sudah melakukannya daripada Hasan bisa tapi sama sekali tidak menjalankan padahal tahu itu kewajiban. Insya Allah nanti di kelas Hasan akan mendapat pelajaran juga tentang bacaan sholat. Ya sudah umi tinggal ya. Hasan nanti jangan lupa wudhu dulu. Wudhu itu fungsinya adalah untuk membersihkan diri dari najis dan kotoran, karena saat menghadap Allah kita harus bersih dan suci nak,” Umi mengelus kepala Hasan.

Hasan mengangguk perlahan. Umi pun meninggalkan Hasan.

Dan subuh kali itu Hasan dengan cara sebisanya berusaha untuk wudhu dan sholat subuh tanpa bacaan.

***

           Hari pertama memasuki kelas Hasan masih di dampingi umi. Orang tua Hasan memang berpesan pada umi untuk membantu Hasan selama di sana, meski tidak bisa setiap saat menemani Hasan tapi umilah yang Hasan anggap sebagai ganti bunda di pesantren.

Memasuki kelas umi menemui guru dalam pelajaran pagi itu dan berkata sesuatu dengan bisik-bisik. Pak guru atau yang lebih akrab mereka panggil Kak Seno karena usianya yang belum begitu tua itu tersenyum ramah kepada Hasan. Hasan tetap diam. Kak Seno memperkenalkan Hasan pada teman-teman sekelas dengan nada lembut. Hal yang tak pernah Hasan dengar dari ayahnya. Kemudian Hasan dipersilahkan duduk di salah satu bangku kosong.

Hasan masih diam sementara umi mulai meninggalkan ruangan dan teman-temannya yang masih berbisik entah. Kak Seno melanjutkan pelajarannya. Hasan mencoba mengukuhkan mentalnya melihat sikap teman-teman Hasan yang memandang aneh ke arah Hasan. Dia mencoba beradaptasi dan mengikuti pelajaran. Selama di kelas Hasan banyak diam. Dia hanya berkata saat di tanya, dan tidak terlalu banyak mengemukakan pendapat atau bertanya.

Hasan menjalani hari-harinya dengan terus menutup diri. Saat teman-temannya asik bermain di jam kosong, Hasan hanya duduk di meja dengan diamnya. Saat beberapa anak usil dengan ejekan dan cibirannya, Hasan terus sembunyi dalam diam. Saat jam istirahat anak-anak berlarian dengan bebas, Hasan harus berusaha berjalan menuju kantin dengan mengandalkan sisa penglihatannya. Hasan tidak pernah berbaur untuk bermain bersama temannya, dia tahu betul bahwa dia tak akan bisa meski seberapapun Hasan menginginkannya. Jam makan di kantin adalah jam yang paling tidak Hasan suka. Saat satu per satu temannya meninggalkan tempat duduk yang didekati Hasan, hingga akhirnya tinggal Hasan yang duduk di meja itu. Hasan merasa seperti monster yang ditakutkan teman-temannya.

***

           Teman-teman Hasan masih belum bisa menerima kehadiran Hasan diantara mereka. Hasan yang cenderung pendiam masih menjadi sosok yang mereka anggap idiot. Hanya Kak Seno yang tahu betul bahwa Hasan punya kemampuan yang belum bisa digalinya. Kak Seno selalu mencoba mencari cara untuk masuk ke kehidupan Hasan, mengetahui pribadi Hasan lebih jauh. Hasan termasuk anak yang sangat tertutup sehingga Kak Seno sadar betul bahwa akan sulit baginya meluluhkan anak yang satu ini.

Dikantin Hasan membawa tempat makan yang sudah disiapkan dan petugas menuangkan nasi dan lauk pauk ke dalamnya, Kak Seno mengikutinya dari belakang. Beliau hanya mengambil segelas teh hangat kemudian mereka berdua duduk di meja makan yang kosong di tengah. Hasan duduk di samping kedua temannya yang sedang makan, namun seketika kedua temannya berdiri dan beranjak meninggalkan meja, dari belakang Kak Seno masih berdiri mengamati.

Hasan menunduk dan mulai mengambil suapan pertamanya dengan perlahan. Nampak anak-anak di sebelahnya saling berbisik kemudian ikut berdiri meninggalkan Hasan. Hasan tahu betul dia akan menjumpai kondisi seperti itu. Hasan terus menyuap makanannya tanpa hirau. Perlahan air matanya menetes, segera dia menghapusnya. Kak Seno duduk di sebelah Hasan.

“Hasan kok makannya dikit?” Tanya Kak Seno basa-basi, namun Hasan tetap diam. Kak Seno mencari cara untuk berkomunikasi dengan Hasan.

“Hasan tahu enggak tentang cerita seekor ulat yang berbeda?”

Hasan mengalihkan pandangannya kemudian menggelang.

Kak Seno memulai ceritanya,”Ada seekor ulat yang merasa berbeda, karena dia tidak punya kaki sehingga hanya bisa menggeliat padahal dia ingin melihat dunia lebih jauh, dia tak punya tangan sehingga hanya bisa makan langsung dari mulutnya. Saking merasa malunya dia mengurung dirinya dalam sebuah tempat tertutup untuk waktu yang cukup lama. Tapi apa yang terjadi ketika dia coba keluar? Sayap-sayap indahnya mengembang perlahan. Ketika dia coba mengepakkannya sayapnya, betapa kagetnya dia ketika perlahan tubuhnya terangkat meninggalkan tanah yang menjadi zonanya yang begitu sempit karena hanya bisa menggeliat. Senyumnya mengembang ketika perlahan tubuhnya meninggi dan dengan lapang dia bisa melihat indah dan luasnya dunia. Kamu tahu poin pentingnya nak?”

Hasan menggeleng.

“Kita sebagai manusia harus berani keluar dari zona kita. jangan jadikan sebuah kekurangan menutupi kemungkinan-kemungkinan menakjubkan yang bisa kita raih. Dobrak benteng-benteng yang membelenggumu dan tunjukkan pada dunia bahwa kamu bisa terbang tinggi dengan sayap-sayap menakjubkan yang saat ini mungkin masih belum kamu temukan. Jangan terlalu larut merenungi kekurangan karena saat itu kamu sudah membuang banyak waktu yang bisa kamu gunakan untuk menemukan kelebihan-kelebihanmu.”

Nampak senyum tipis tertarik dari sudut bibir Hasan. Dia mengerti betul apa maksud Kak Seno.

“Ajari Hasan untuk jadi seorang Hafidz kak,” Ini adalah kalimat pertama yang Hasan ucapkan pada Kak Seno.

Kak Seno merasa lega mendengarnya, selama ini dia yakin bahwa Hasan bukan seoarang anak berkebutuhan khusus seperti yang orang kira. Dia diam dan cenderung menutup diri karena kurang percaya diri dengan kekurangannya, itu saja. Dan Kak Seno berhasil menemukan pintu untuknya masuk ke hati Hasan.

“Tentu saja kakak mau membantu Hasan yang penting Hasan ada niat dan bersungguh-sungguh insya Allah Allah akan terus bersama Hasan, membantu Hasan.”

***

        Semenjak perbincangannya dengan Kak Seno semangat Hasan untuk menuntut ilmu lebih berkobar. Dia benar-benar berusaha untuk meraih mimpi kecilnya.

Saat itu pelajaran baca Quran menjadi pelajaran favoritnya.

“Jadi bagaimana Hasan harus belajar Kak? Hasan ingin sekali bisa menjadi seorang Hafidz,” Tanya Hasan pada Kak Seno usai pelajaran.

“Subhanallah Nak, niatmu sudah cukup untuk bekalmu memulai. Kalau Hasan tidak cukup jelas dalam melihat apa yang Kak Seno tulis di papan tulis, Hasan masih punya telinga yang cukup baikkan untuk menangkap suara Kak Seno?”

“Insya Allah pendengaran Hasan masih sangat baik Kak,” Jawab Hasan.

“Baiklah kalau begitu setiap habis aktifitas pesantren Hasan ke kamar Kak Seno ya. Kak seno akan mengaji perlahan dan Hasan bisa mendengar dan menghafalkannya. Bagaimana Hasan?”

“Iya Kak Hasan mau, Hasan akan ke kamar Kak Seno, Hasan harus bisa. Terima kasih Kak,” Hasan tersenyum dengan lebih bersemangat. Ini adalah senyum dan ekspresi senang yang sangat langka Kak Seno temui dari Hasan. Dia menangkap adanya semangat yang benar-benar membara dari sosok anak yang bahkan sampai saat itu masih banyak yang menganggapnya idiot. Hasan memang masih begitu, dia hanya mau berbicara dengan orang orang tertentu saja.

***

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s