I’m Not Idiot Boy (Part 4)

Hasan menuju ruang pengurus untuk dengan mantap mendaftar audisi da’i cilik. Beberapa anak nampak kaget dengan mendaftarnya Hasan dalam audisi itu. Selama ini yang anak-anak tahu Hasan tidak begitu pandai dalam berinteraksi atau bahkan tampil di depan.

“Hey Hasan…kamu ikut audisi?” Tanya temannya yang menghampiri saat Hasan meninggalkan tempat pendaftaran.

Hasan menghentikan langkahnya namun dia hanya diam.

“Kenapa hanya diam? Sudahlah kamu mending mengundurkan diri saja sebelum pulang karena malu. Kamu tahu kan siapa saja lawanmu nanti? Kamu pasti akan kalah dari awal audisi pesantren jadi jangan mimpi bisa sampai di audisi TV, apalagi bermimpi Indonesia bisa melihatmu,” Anak-anak itu tertawa puas.

Hasan menarik nafas panjang dan meninggalkan keduanya tanpa perasaan ragu sama sekali. Tekat Hasan sudah cukup kuat untuk sekedar dipupuskan oleh kata-kata yang tidak sebanding itu. Hasan yakin bahwa dia harus mengambil peluang itu.

Hasan bertemu Kak Seno di depan mushola. Kak Seno menangkap adanya raut kesedihan dari Hasan. “Hasan kamu kenapa nak?” Tanya Kak Seno.

“Hasan sudah mendaftar peserta audisi tingkat pesantren kak,” Jawab Hasan singkat.

“Nah itu bagus dong Hasan sudah berani melangkah, lalu apa yang membuat Hasan tampak sedih?”

“Teman-teman meminta Hasan untuk mundur kak, mereka bilang Hasan tidak layak ikut audisi. Mereka bilang Hasan tidak usah bermimpi Indonesia bisa melihat Hasan.”

“Nak, bukan mereka yang berhak menentukan langkahmu, begitupun tentang menghentikan langkahmu. Bukan mereka yang berhak membuatmu berhenti. Satu-satunya yang dapat menghentikan langkahmu adalah dirimu sendiri. Niatmu itu seperti akar nak, dan ucapan orang bagai daun dan rantingnya. Selebat apapun daun itu, sebesar apapun ranting yang menopangnya kalau akarmu tumbuh dengan kuat maka tidak akan bisa daun dan ranting membuat sang pohon tumbang. Kamu ingat bunda, ingat ayah dan ingat semangat yang sudah susah payah kamu kumpulkan untuk berani melangkah menuju tempat panitia untuk mendaftar. Jangan sampai hanya karena omongan yang sepele membuatmu tumbang sebelum berjuang nak.”

Hasan mengangguk,”Iya kak Hasan akan terus maju. Terimakasih kak.” Hasan memeluk Kak Seno. Hati Kak Seno seakan luruh redam merasakan pelukan Hasan yang spontan. Seketika Kak Seno mengangkat tangannya dan melingkarkannya di bahu Hasan. Didekapnya erat tubuh mungil Hasan. Dia merasakan getar degupan jantung Hasan yang mulai stabil.

Hasan melepas pelukannya. “Kak kadang Hasan merasa takut.”

“Takut soal apa nak?”

“Entahlah kak, Hasan hanya merasa takut saja. Untuk banyak hal yang tidak Hasan tahu.”

“Hasan, ketakutan itu adalah hal yang wajar bagi setiap manusia. Jangankan Hasan, Kak Seno saja masih sering merasa takut untuk suatu hal. Tapi Hasan, salah satu alasan seseorang jatuh bukan hanya karena sandungan kaki orang lain, melainkan karena tersandung kakinya sendiri. Tersandungnya oleh kaki sendiri itu salah satunya dari ketakutan-ketakutan yang kita ciptakan sendiri.”

“Jadi bagaimana Hasan bisa menghadapi ketakutan yang tidak pasti itu kak?”Tanya Hasan kemudian.

“Satu-satunya cara untuk melawan ketakutan adalah dengan menghadapinya. Karena terkadang kenyataan yang ada tidak semenakutkan apa yang kamu bayangkan. Jadi cukup jalani segala sesuatunya sesuai aturan yang sudah Allah buat. Tetap melangkahlah maka perlahan ketakutan itu akan terlewati.”

Hasan tersenyum, semangatnya seakan di charge penuh. Kak Seno selalu punya cara untuk mengambil hati anak yang satu ini.

***

          Hari itu orang tua Hasan datang menjenguk Hasan tanpa sepengetahuan Hasan. Mobil sudah terparkir rapi di depan ruang pengurus. Hasan masih sibuk dengan kegiatannya di kelas. Bunda dan ayah membawakan beberapa baju dan bekal makanan kesukaan Hasan. Sementara bunda masih asik dengan perbincangannya dengan pengurus perihal kemajuan Hasan selama di pesantren, ayah memohon diri untuk berjalan-jalan. Bunda kira ayah tidak terlalu suka mendengar cerita tentang anaknya. Bunda membiarkan ayah keluar sementara bunda melanjutkan perbincangannya. Bunda sangat tertarik dengan cerita pengurus tentang kemajuan Hasan yang sangat baik.

Ayah menyusuri koridor demi koridor ruangan, semua nampak biasa saja dan terkesan sederhana. Ayah sampai di sebuah kamar 7D, kalau tidak salah dulu bunda pernah mengatakan kalau kamar Hasan di 7D. Perlahan ayah membuka pintu ruangan tersebut. Diamatinya ruangan yang tidak terlalu luas dengan kepadatan yang cukup untuk dikatakan sesak. Seketika hatinya miris melihat kondisi itu, bagaimana mungkin anaknya bisa tidur dengan keadaan seperti itu. Pasti akan sulit untuknya beradaptasi dengan suasana yang jauh berbeda dengan suasana rumah yang lapang dan serba ada.

Ayah melanjutkan perjalanannya, nampak beberapa anak sedang mengikuti pelajaran olahraga. Ayah mengamatinya perlahan, saat canda tawa mereka memecah keheningan. Pandangan ayah menjelajah jauh ke sudut-sudut lapangan. Nampak di salah satu kursi taman di samping lapangan seorang anak duduk bersama gurunya. Hasan.

Ayah mengalihkan fokusnya kepada Hasan. Nampak di sana sebuah pemandangan yang sangat berbeda dari biasanya. Hasan nampak sedang asik berbicara dan bercanda dengan Kak Seno. Tawa Hasan tercurah dengan lepas, sesuatu yang sangat jarang ayah lihat dari anaknya sebelumnya, sesekali Kak Seno mengusap kepala Hasan dengan akrab kemudian Kak Seno memeluk tubuh mungil Hasan. Nampak sesuatu yang hebat menampar hati sang ayah, saat dirinya tak bisa sedekat itu dengan buah hatinya sendiri namun sang anak justru nampak sangat dekat dengan orang lain. Seperti ada sebuah kesedihan yang tiba-tiba menyeesakkan dada ayah. Ayahpun melangkah kembali ke ruang pengurus.

Saat jam istirahat pengurus memanggil Hasan untuk bertemu orang tuanya. Hasan sangat senang mendapat kunjungan dari  sang bunda dan ayah. Hasan berlari dan langsung memeluk bundanya. Ayah hanya diam dan sedikit menyadari bahwa ternyata selama ini dia sudah membuat jarak yang cukup jauh dari anaknya. Hasan tumbuh dengan baik di pesantren, nampak sekali dari postur tubuh Hasan yang lebih berisi dan raut muka Hasan yang lebih berseri. Hasan meraih tangan ayah dan menciumnya. Ayah sedikit kaget.

“Bagaimana keadaanmu nak? Hasan betah di sini? Bunda bawa makanan kesukaan Hasan,” Bunda mencoba mencairkan suasana.

“Iya bun Alhamdulillah, teman-teman, guru dan semua yang ada di sini baik. Hasan merasa seperti di rumah. Terlebih ada Kak Seno yang sangat baik dan mau mengajari Hasan banyak hal, bunda mau bertemu Kak Seno?”

Bunda mengangguk. Hasan menarik tangan bundanya. Ayah cukup heran Hasan bisa berbicara banyak hal seperti itu. Ayah memang tidak pernah berbicara banyak dengan Hasan, Hasan yang ayah kenal adalah Hasan yang pendiam. Bahkan Ayah tidak tahu bahwa Hasan juga suka bercerita banyak hal pada bundanya. Ayah kira selama ini Hasan mengalami keterbelakangan. Ayah mengikuti Hasan dan bunda dari belakang. Mereka bertemu Kak Seno.

Sepintas apa yang nampak dari Kak Seno memang sederhana. Namun cara berbicaranya yang cukup berwibawa membuat Kak Seno nampak menarik di mata ayah.

“Assalamualaikum Kak Seno, saya bundanya Hasan. Hasan sudah banyak bercerita tentang Kak Seno. Terimakasih sekali Kak Seno sudah membantu banyak hal untuk Hasan,” Kata bunda. Ayah sedikit kaget, dia bahkan tidak tahu kalau bunda dan Hasan sering bertukar kabar lewat surat.

“Walaikumsalam wr.wb sama-sama bu, saya hanya membantu sebisa saya. Selebihnya itu adalah Hasan yang memang sebenarnya berbakat. Dia anak yang pandai, bunda harus bersyukur punya anak seperti Hasan. Penguasaan materinya cukup cepat dibanding anak seusianya,” Kata Kak Seno.

Ayah diam-diam menaruh rasa bangga terhadap Hasan namun masih ada rasa gengsi untuk menunjukkannya, dia hanya diam.

Dan hari itu berakhir dengan cukup baik. Hasan cukup bahagia bertemu orang tuanya walau hanya beberapa jam saja. Mengantarkan orang tuanya ke mobil, melihat orang tuanya melambaikan tangan, dan menatap kosong mobil ayah yang perlahan hilang di telan semak adalah hal yang sangat menyedihkan bagi Hasan. Dia ingat betul saat pertama Hasan merasa dibuang dan tidak dianggap sebagai anak. Namun akirnya dia menyadari bahwa orang tuanya hanya menginginkan yang terbaik untuk Hasan.

***

        Audisi tingkat pesantrenpun tiba, Hasan sudah cukup siap dengan latihannya yang dilakukannya diam-diam tanpa sepengetahuan teman-temannya. Hasan berlatih dengan seksama kepada Kak Seno, mendengarkan rekaman suara Kak Seno setiap menjelang tidur, mengulangi bacaan yang dilafadzkan Kak Seno dan terus memutar ulang sampai Hasan tertidur.

Beberapa anak sudah tampil menunjukan kemampuannya. Tiba saat giliran Hasan. Hasan melangkahkan kaki perlahan ke depan dewan juri yang akan menilainya. Hasan nampak sedikit grogi, dipejamkannya mata Hasan perlahan, dalam angannya nampak jelas bayang-bayang bundanya, ayahnya dan kak Seno. Keberaniannya seakan meluap, dan Hasan melafadzkan surat Ar-Rahman dengan intonasi yang sangat menakjuban, bahkan umi sebagai salah satu juri perempuan sampai menitihkan air matanya.

Dan setelah beberapa santri tampil, dewan juri berdiskusi sesaat. Tepat sore hari selepas sholat Asar dewan juri mengumumkan tiga anak yang lolos untuk mengikuti audisi berikutnya,dan salah satunya adalah Hasan.

Banyak mata melirik tidak percaya, banyak kata yang terlontar lewat desahan nafas saling bersahut berbisik tentang ketidakmungkinan, tapi kenyataannya memang Hasan menjadi salah satu yang layak untuk tampil di depan Indonesia.

Kak Seno mewakili pihak pesantren mengantar Hasan dan kedua temannya untuk mendaftar Audisi ke pihak TV swasta. Tinggal menunggu hasil keputusan dewan juri.

Hasan berlatih dengan giat selama masih di pesantren, dan beberapa saat kemudian panitia menelvon pihak pesantren dan mengabarkan bahwa Hasan lolos untuk masuk ke tingkat seleksi berikutnya. Dan pada tahap ini semua peserta akan dikarantina dan dibimbing oleh mentor-mentor yang berpengalaman di bidangnya. Hasan nampak antusias mengikuti karantina, Hasan sudah tidak begitu peduli dengan tatapan asing yang sudah biasa dijumpainya. Hasan fokus dengan apa yang menjadi tujuannya. Mendengarkan setiap pelajaran yang diberikan oleh ustadz dan ustadzah. Tak kenal waktu Hasan terus berlatih di sela-sela kegiatannya.

Minggu demi minggu terlewati dengan baik dan Hasan bisa terus lolos ke babak-babak berikutnya diantara teman-temannya yang gugur satu per satu. Hasan lebih percaya diri tampil di depan kamera, kekurangan tidak menjadi satu penghalang semangatnya. Hasan selalu ingat kata-kata Kak Seno dan bundanya,”Cara untuk melawan ketakutan adalah dengan menghadapinya.”

Dan Hasan sampai pada babak final yang mana hanya tersisa 3 peserta di dalamnya. Hasan memberi kabar melalui panitia kepada orang tuanya. Hasan sangat berharap di babak ini Hasan bisa melihat semua semangatnya, bunda, ayah dan juga Kak Seno.

“Assalamualaikum bunda, ini Hasan menelvon dari HP panitia,” Kata Hasan melalui telvonnya.

“Walaikumsalam wr.wb nak, bagaimana keadaanmu di sana nak? Apakah kamu kesulitan di sana? Apakah orang-orang di sana baik nak?” Tanya ibu kawatir.

“Alhamdulillah Hasan baik-baik saja Bun. Orang-orang di sini baik. Dan Alhamdulillah Hasan masuk babak final bun. Bunda bisa tidak hadir ke babak final minggu besok? Ajak ayah sekalian bun.”

Bunda nampak ragu menjawabnya,”Insya Allah bunda akan datang nak. Soal ayah…….Ayah bilang minggu depan ke luar kota untuk urusan pekerjaan.”

Hasan terdiam sesaat, kemudian tersenyum ikhlas,”Ya sudah bun kalau ayah tidak bisa tidak apa-apa, yang penting ada bunda. Meski Hasan sangat mengharapkan ayah datang,” Nada bicara Hasan melemah.

“Nak, bunda akan coba berbicara sama ayah, semoga ayah bisa datang ke sana untuk menyaksikan kemenangan Hasan ya nak. Bunda bangga sama Hasan. Hasan pasti bisa nak,” Kata bunda dengan penuh harap. Dan pembicaraan merekapun berakhir. Ada sedikit kekecewaan di hati Hasan saat tahu ayahnya tidak bisa datang. Tapi hatinya masih cukup lapang untuk menerima semuanya. Hasan mengumpulkan puing-puing semangatnya yang jatuh berceceran. “Hasan harus menang,”Gumam Hasan dalam hati.

Tiba-tiba Hasan teringat kata-kata Kak Seno di suatu malam sebelum keberangkatannya ke rumah karantina.

“Hasan, kamu boleh berharap untuk membahagiakan orang tuamu dengan kemenanganmu. Tapi jangan salah menggantungkan harapan. Tetap jadikan Allah sebagai tempatmu bergantung yang utama. Kamu boleh berharap untuk menang, tapi kemenangan bukanlah yang utama, kamu tetap harus ingat bahwa yang terpenting dari sebuah ilmu bukan saat kamu bisa mendapat hujan pujian dari dewan juri, melainkan saat kamu bisa mengamalkan ilmumu kelak.”

“Astagfirullah…..Maafkan Hasan yang terkadang lalai oleh ambisi Hasan Ya Allah, maafkan Hasan yang terkadang lupa akan janji-janji-Mu yang sesungguhnya nyata, Semoga Engkau tak pernah lupa untuk mengingatkan Hasan saat Hasan lalai,” Gumam Hasan dalam hati.

Hari yang dinantipun tiba, Hasan menunggu di balik panggung. Penampilan dua orang temannya memang cukup bagus, namun sama sekali tidak menyurutkan niat Hasan untuk menunjukkan bakatnya. Babak final ini peserta akan membawakan 2 materi dakwah. Satu materi berhasil di bawakan Hasan dengan baik meski Hasan nampak tidak begitu bersemangat karena belum ada tanda-tanda orang tua Hasan hadir.

Saat menunggu sesi berikutnya Kak Seno mendekati Hasan di belakang panggung.

“Hasan, kenapa kamu nampak seperti tidak bersemangat nak? Ini adalah perjuangan terakhirmu, kamu harus berjuang, mimpimu sudah di depan mata nak,” Kata Kak Seno.

“Ayah sama bunda tidak datang ya kak?” Tanya Hasan dengan nada tidak bersemangat.

“Jadi karena itu Hasan merasa tidak bersemangat?” Tanya Kak Seno.

Hasan mengangguk perlahan.

“Hasan sudah menyiapkan kejutan kecil untuk ayah.”

“Hasan, orang tua Hasan pasti punya alasan. Mungkin ayah sedang sibuk dengan pekerjaannya. Atau mungkin sedang macet di jalan. Ayah dan bunda pasti ingin sekali menemani Hasan di sini. Hasan bayangkan saja seolah ada ayah dan bunda, mungkin di satu tempat ayah sedang menonton Hasan dari TV jadi Hasan harus tetap melakukan yang terbaik.”

“Apa Hasan tidak punya arti apa-apa buat ayah ya kak?”

“Tidak nak, Hasan pasti sangat berarti buat ayah, ayah bekerja keras juga untuk masa depan Hasan. Hasan lakukan yang terbaik, ayah pasti akan menyaksikan penampilan Hasan, Hasan harus melakukan yang terbaik.”

Hasan mengangguk perlahan.

Tiba-tiba terdengar panitia memanggil nama Hasan.

“Ingat Hasan, bayangkan ayah dan bunda di depan sedang melihat penampilan Hasan, lakukan yang terbaik,” Kata Kak Seno lagi.

Hasan mengangguk dan menaiki panggung.

Hasan memejamkan matanya perlahan, merasakan atmosfer ruangan, riuhnya tepuk tangan yang berganti sunyi. Dan kini hanya suaranya yang akan menggema mengisi seluruh ruangan. Hasan masih diam, membayangkan banyak hal-hal indah di hadapannya, tentang bundanya, tentang ayahnya, dan pesantren yang menjadi rumahnya.

Hasan membacakan sebuah surat dengan cukup indah dan penuh semangat, beberapa penonton dibuat merinding oleh suara Hasan yang sangat merdu. Beberapa mata bahkan tidak mampu menahan bendungannya, luluh semua tampungan air mata penonton. Dan Hasan mengakhiri surat yang di bacanya dengan begitu menawan. Selesai membaca Hasan memberi sedikit tambahan.

“Berdirinya Hasan di sini adalah untuk orang-orang yang Hasan sayang. Untuk bunda yang sangat menyayangi Hasan, yang tak pernah lelah menjaga dan memberikan waktunya untuk Hasan. Untuk ayah yang tak pernah lelah mencari nafkah agar Hasan dan bunda selalu tercukupi. Ayah, bukan uang yang Hasan inginkan, Hasan hanya ingin ayah di sini, melihat Hasan yang berjuang untuk membuat ayah bangga. Hasan mungkin tidak bisa melihat wajah ayah secara nyata, tapi Hasan tahu ayah sebenarnya adalah orang yang sangat menyayangi Hasan. Kak Seno, terima kasih sudah dengan sabar membimbing Hasan selama ini, sangat percaya bahkan disaat tak satupun orang yang mau mendekati Hasan.”

Seketika panggung hening, hanya isak-isak tangis yang mengisi ruangan. Tiba-tiba salah seorang juri berdiri dan memberikan tepuk tangan diikuti satu per satu penonton yang hadir. Dan panggung malam itu benar-benar digemparkan oleh penampilan Hasan yang luar biasa.

Kemudian presenter mempersilahkan dewan juri memberi  tanggapan. Dua dewan juri tak bisa berkomentar apapun,semua salut dengan kemampuan Hasan. Namun seorang juri bertanya,”Nak, saya tidak ingin berkomentar karena seperti yang sudah disampaikan teman-teman suaramu luar biasa, bahkan beberapa dari kami mampu menitihkan air mata. Saya hanya mau bertanya besok kalau Hasan menang, mau dipakai untuk apa uang hasil lomba ini?”

Hasan menarik nafas panjang,” Yang pertama Hasan ingin membelikan Kak Seno HP baru,” Jawab Hasan singkat dan polos. Kak Seno nampak terkejut dengan jawaban Hasan.

“Kenapa nak? Siapa itu Kak Seno?” Tanya dewan juri.

“Kak Seno adalah guru Hasan di pesantren, yang mengajari Hasan banyak hal bahkan sampai Hasan berdiri di sini mungkin adalah berkat Kak Seno. Hasan tidak dapat melihat dengan jelas jadi selama di pesantren Kak Seno meminjamkan Hp-nya yang sudah diisi rekaman suara Kak Seno setiap malam untuk Hasan dengar ulang dan pelajari sebelum tidur. Hp Kak Hasan bukan Hp canggih seperti Hp teman-teman, bahkan sudah banyak yang rusak. Speakernya juga sudah pecah-pecah. Walaupun nampak jelek, namun karena Hp Kak Senolah Hasan bisa belajar Al-Quran dengan baik. Kemudian kedua Hasan ingin sekali memberangkatkan ayah dan bunda untuk umroh,” Semua mata memandang Hasan dengan haru, banyak yang bahkan tak kuasa meneteskan air matanya.

“Baiklah nak pertanyaan terakhir. Kenapa kamu ingin menjadi seorang Hafidz?”

“Kak Seno pernah cerita tentang istana surga. Katanya hanya anak-anak yang soleh dan solehahlah yang dapat membangunkan istana surga buat orang tuanya. Dan walaupun Hasan punya banyak kekurangan, Hasan ingin membangun istana surga untuk ayah dan bunda kelak. Ini adalah wujud cinta Hasan kepada bunda dan ayah, terutama untuk ayah yang tak pernah sempat Hasan menyampaikannya secara langsung. Jika Hasan tidak bisa membanggakan ayah di dunia, semoga kelak Hasan bisa membuat ayah tersenyum bahagia dengan istana surga yang Hasan bangun. Semoga ayah mendengar ini, Hasan sayang ayah.”

Seketika gedung menjulang yang menjadi tempatnya bernaung seakan runtuh seketika oleh isak tangis dari para audience. Tanpa Hasan tahu sebuah langkah tengah berjalan mendekati Hasan, dengan mata berkaca dan air mata yang memaksa keluar dari bendungannya. Kemudian sebuah tangan mendekap Hasan dari belakang. Hasan kaget, tangan itu amat asing baginya, entah tangan siapakah itu.

“Hasan maafkan ayah,” Terdengar sebuah isak tangis tepat di depan telinga Hasan.

“Ayah? Ayah datang?” Tanya Hasan dalam bisiknya.

“Iya nak, ayah datang, ayah di sini untuk Hasan. Ayah sayang Hasan.”

Air mata itupun menemukan muara untuknya tumpah perlahan. Ayah hanyut dalam tangisannya. Hasanpun sedang menikmati pelukan hangat yang entah kapan terakhir kali dirasakannya.

Dan merekapun dipersilahkan meninggalkan panggung utama. Beberapa dewan juri tengah sibuk memilih pemenangnya, selain dari polling SMS, pilihan dewan juripun berkontribusi cukup besar di dalamnya.

Dan tiba saat pengumuman tiba. Semua penonton dan peserta merasa cemas dengan keputusan dewan juri. Namun tidak bagi Hasan, baginya kemenangan sudah diraihnya saat pelukan sang ayah mendarat di tubuh kecilnya. Kemenangannya bukan berada pada tingginya poling SMS atau piala yang akan dia terima, namun kemenangannya adalah ketika Hasan berhasil mengambil hati ayahnya kembali. Hati yang sejak kecil tak dapat dirasakan kehangatannya oleh Hasan.

Dan lebih dari itu, ternyata Hasan lolos sebagai juara pertama, riuh tepuk tangan menyambut kedatangan Hasan di panggung depan. Ayah, bunda dan Kak Seno mengiringi langkah Hasan dengan bangga menuju panggung kemenangannya.

“Ayah…Bunda…Hasan sudah membuktikan bahwa Hasan bukan anak idiotmu. Hasan berdiri di sini untuk kalian,” Gumam Hasan dalam hati.

(END)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s