Surat Untuk Malaikat

Aku selalu kehabisan kata setiap kali menempatkanmu sebagai subjek tulisanku.

Rasanya sebanyak apapun perbendaharaan kata yang aku punya, seakan tak cukup untuk melukiskan sosok mulia sepertimu.

Ini mungkin bukan tulisan pertamaku untuk mengabadikan kisahmu yang luar biasa selama memerankan tokoh yang dipercaya Allah di dunia. Tokoh sebagai Ibuku yang luar biasa.

Anggap saja ini adalah surat ku, seperti dulu ketika kecil kita sering berbalasan surat karena jarak yang tidak memihak.

Apakah disana engkau ingat, ketika engkau mengirimkan sepucuk surat untuk pertama kali? Sementara aku yang masih begitu kecil untuk tahu apa yang harus aku tulis dalam sebuah surat, tanda baca seperti apa, dan bahkan tulisanku yang entah bisa kau mengerti atau tidak.

Masa dimana anak seusiaku sedang belajar merangkai fonem menjadi kata, sementara aku dituntut untuk merangkai kata menjadi sebuah kalimat untuk mewakili keinginanku.

Ingatkah, ketika di dalam suratmu engkau selalu menanyakan apa keinginanku. Kemudian saat itu dengan tangan polos penuh harap aku menulis beberapa keinginan, entah itu baju atau sepatu yang aku idamkan, atau sekedar snack terbaru yang baru muncul di iklan TV.

Dan selang beberapa bulan bersama suratmu berikutnya, engkau mengabulkan satu persatu keinginanku yang tidak penting itu. Aku begitu senang, bahkan saat teman-teman seusiaku belum merasakan dan memiliki apa yang aku miliki, engkau yang aku tahu dengan keterbatasanmu selalu mengusahakan apa yang aku minta selalu ada.

Dan bodohnya aku, selalu ada saja permintaan tidak penting yang aku tuliskan. Binder, pensil atau bullpen karakter doraemon atau hello kitty, tempat pensil bergambar Barbie, buku bergambar kartun, tas berwarna pink, jaket pink dan entah berapa banyak lagi hal tidak penting yang aku tulis dalam suratku.

Aku tak pernah tahu seperti apa engkau berjuang disana dengan suka dukamu. Maafkan aku. Begitulah surat menyurat kita yang berlangsung selama bertahun-tahun sampai munculnya teknologi canggih yang bisa lebih banyak memadamkan kerinduan dengan mendengar suara merdumu.. Telephone. Adakah engkaupun juga merasakan dan melakukannya? Saat menggoreskan pena seraya menahan kerinduan, menitihkan air mata disetiap sujud dan doa yang tak henti mengiringi hari. Membuka mata dengan merindu, menutupnya dengan sendu.

Aku ingin mengurai detail-detail kisah yang hanya bisa aku simpan di dalam memori. Meski aku tahu engkau tak akan membalas suratku lagi. Bolehkah aku tetap menulis surat untukmu?

images

Untukmu malaikat berjuta sayap.

Aku heran mengapa kebanyakan orang menyebutmu malaikat tak bersayap.

Karena dimataku sayapmu bahkan tak bisa terganti bahkan dengan deretan bilangan

Engkau bisa terbang melintasi cakrawala sekaligus mengarungi dunia,

Engkau bisa melakukan banyak hal hanya dengan sekali kepakan sayapmu

Rasanya tak cukup waktu untukku memujamu bahkan sepanjang hidupku

Entah dari pertikel seperti apa Tuhan menciptamu

Hingga banyak rumus tak terjangkau saat menguraimu

Dulu, sering sekali ketakutan mencekikku dengan kejam

Seakan ingin membawaku kedalam halusinasi kehidupan kelam

Aku kesakitan, menahan jerit tak tersampaikan

Ketakutan itu adalah ketika aku membayangkan engkau tak lagi berada dalam satu atap “Langit” yang sama denganku

Meski raga kita berada diatas bumi yang sama

Aku takut engkau dengan sejuta sayapmu terbang meninggalkanku yang masih termenung

Melihatmu yang mulai menghilang ditelan gumpalan awan

Ketakutan itu seakan memeras air mata yang mengalir deras

Dan tangispun pecah…

Tapi kini…

Aku seperti menghadapi mimpi buruk yang menjadi nyata

Itu bukan halusinasi semata

Bahkan saat tak aku dapati mata yang benar-benar tak bisa terbuka sekedar melihatku tiba

Saat mulut tak lagi bisa tergerak sekedar mengucap selamat tinggal

Saat tangan tak mampu lagi terangkat sekedar mendekap

Saat itu aku merasa ruhku terlepas dari raga yang tak berguna

Aku seakan terbang tinggi mengikutimu yang sudah hilang ditelan awan

Aku mencoba meraih satu awan,

Berharap mendapatimu menjulurkan tangan ketika aku berhasil menembus awan itu

Mengajakku terbang bersamamu….

Namun tiba-tiba aku terhempas bebas

Kembali keraga kosong

Saat itu aku sadar, bahwa engkau tak akan bisa membalas suratku lagi

Jadi bolehkah aku tetap menulis surat untukmu di alamat barumu?

Alamat yang tak bisa aku jangkau walau sekuat apapun aku kayuh pedal kehidupan

Hingga saat Tuhanlah yang menjemputku, dan mempertemukan denganmu dalam satu tempat indah

Aku hanya ingin menyampaikan betapa engkau adalah malaikat berjuta sayap terhebat yang pernah Tuhan hadirkan dalam kehidupanku.

Terima kasih.

 

(Tulisan dari blog lama yang nggak tega ditinggalkan jadi diboyong ke blog baru)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s